06 Agustus 2008

Populasi

Dunia ini telah banyak populasi manusia yang menyingkirkan hewan dan tumbuhan. Dimana manusia yang tidak seimbang antara angka kematian dan angka kelahiran sehingga hutan menjadi desa dan desa menjadi sebuah kota. Dari setiap hal pastinya ada dampak negatif dan positifnya apapun itu bentuknya, ada yang membenarkan dan ada yang menyalahkan tetantang populasi pada saat ini.
Pernahkah mendengar tentang program KB? tentunya ini bukan hal asing bagi orang yang sudah menikah. Program pemerintah yang bertujuan untuk mencipkan negara yang sederhana dan sejahtera. Program ini masih belum berjalan secara maksimal karena ada sebagian masyarakat menganggap bahwa banyak anak banyak rejeki, tetapi Indonesia pada saat ini dengan kurang lebih hampir 100 jiwa lahir setiap bulannya tapi harapan dengan banyak anak banyak rejeki belum terwujudkan pada saat ini. apa yang kurang? Padahal setiap manusia dilahirkan bersama rejekinya. Pemikiran itu memang benar adanya, tetapi apabila semua orang berusaha untuk mendapatkannya rejeki itu, lahir hidup dan mati tanpa berkarya itu yang menjadi masalah. Beban yang ditanggung oleh negara adalah pendidikan, sebagian daerah masih ada pemuda yang berorientasi sehabis langsung kerja yang mengandalkan kekuatan otot saja hanya dapat mengangkat beban dan dapat bertahan bekerja seharian itu menjadi andalan. Apakah itu mampu bersaing di era globalisasi ini?
Proyek Jati Gede merupakan lapangan pekerjaan yang sangat potensial di Sumedang. Insvestor yang kelahirannya didaratan Cina meminta agar pekerjanya memiliki sarat dapat mengofrasikan alat berat dan bisa berbahasa mandarin. Sedangkan para pekerja kita masih kuli kasar dengan mengandalkan otot.
Dengan populasi yang semangkin meningkat kebutuhan pangan dan bahan bakar pun menjadi meningkat. Sedangkan daratan bukannya membesar malah ada salah satu pulau yang terindikasi menghilang. Coba kita perhatikan daerah sekitar kita berapa pohon yang ditebang, berapa pohon yang tumbuh, berapa meter ketinggian gunung, masih adakah kunang-kunang didesa, berapa liter air yang memenuhi bak mandi, berapa orang yang berdiri di bus damri di Bandung, dan banyak lagi yang harus kita pertanyakan yang diakibatkan oleh banyaknya populasi. Selain itu kita perlu memperhatikan limbah, polusi dan efek dari semua itu. Bayi pada saat ini hampir sama menghisap 1 bungkus roko ketika di perika, penyakit pun renkarnasi berkembang menjadi virus mematikan seiring dengan teknologi. Kita selalu menganggap sepele ketika ada yang batuk di angkutan umum padahal siapa tau tbc, berapa jenis virus yang keluar dari mulut dan menyebar. Lalu pulang kerumah dan lalu disebarkan lagi di keluarga.
Kita melihat pada hutan masyarakat Indonesia masih merasa tenang dan santai saja ketika penebangan pohon pun masih digalakan, itu sama saja kita telah memasang bom waktu yang tidak kita sadari kejadian yang sudah berlalu. Tanah rencong pada tahun 2004 mengalami kejadian sunami bom waktu yang kita tanam itu sudah meledak, menurut penelitian terindikasi bahwa diakibatkan oleh pergeseran tanah di dasar laut yang disebabkan pengeboran minyak. Begitu juga ditanah jawa dihiasi Lumpur yang menenggelamkan desa-desa disebabkan oleh jarum raksasa, benarkah ini takdir? kita hanya melihat dan mendengar tidak tau siapa yang harus disalahkan. Hutan yang terbakar di Kalimantan sehingga mengekspor asap ke Negara Malaysia dan Brunai itu diakibatkan oleh pembakaran ladang untuk lahan sawit sehingga merambat kehutan.
Semua telah terjadi dan kita tidak mungkin mengembalikan waktu berlalu. Mari kita bercermin dari kesalahan yang terjadi. Jangan katakan kenapa tetapi katakanlah bagai mana mengatasinya, menyukai tanaman merupakan langkah awal untuk melihat kedepan dan jangan merasa risi dengan kegelapan dikarenakan pohon tetapi kita pikirkan kedepan apa manfaat pohon tersebut. Tuhan telah menciptakan bumi berserta isinya untuk dimanfaatkan bukan untuk dihancurkan. Melihat masa depan adalah hal yang terbaik agar anak dan cucu kita tidak sengsara. Sadar sekarang lakukan sekarang.

0 komentar: