27 September 2008

Puasa Menyehatkan dan Berefek Positif

Puasa memang tidak patut disalahkan karena puasa mendidik manusia sungguh-sungguh dalam bekerja. Buktinya, umat Islam memenangkan perang badar saat ibadah puasa Ramadan.
Puasa bukan monopoli umat Islam. Orang Jawa dan tradisi Hindu/Buda mengenal puasa yang di sebut smedi atau tapa mutih (hanya makan nasi dan tanpa garam 7 ahari berturut-turut), tapa ngerowot (hanya makan sayuran selama 7 hari 7 malam) dan tapa geni (pantang makan yang dimasak dengan api selama semalam). Intinya kira-kira membebaskan dari ketergantungan jasmani dan emosional. Serta dapat mengarhkan perhatian kepada sesama manusia dan lebih mendekatkan pada tuhan. Sementara dari aspek gizi, puasa setidaknya mengurangi makanan tiga kali dalam sehari menjadi dua kali. Menurut ahli gizi dan para ilmuwan kedokteran. Tubuh manusia dapat bertahan tanpa makan selama satu minggu, asalkan tetap minum. Tubuh akan mengambil cadangan karbohidrat yang disimpan dalam otot, glikogen hati dan lemak. Cadangan energi pertama diambil adalah energi glikogen yang akan menggantikannya. Jika gula darah turun maka glikogen yang akan menghentikannya. Jika tidak mencukupi juga masih ada protein dan cadangan lemak lebih dari cukup untuk puasa selama 12 jam.
Dilihat dari sudut pandang Islam dan Ilmu kedokteran telah membuktikan bahwa puasa berdampak positif. Begitu juga para politikus ikut berpartisipasi memberikan efek positif, salah satunya adalah silaturahmi dan diskusi yang diselenggarakan oleh kaukus. Dengan menghadirkan tokoh muda yaitu Yuddy Chrisnandi sebagai anggota komisi I DPR RI partai Golkar yang di selengarakan di kafe Graha Insun Medal (GIM) Sumedang kamis (11/09) yang dimulai pada pukul 11.30 siang. Setelah kunjungannya dari Cirebon beliau terlihat segar dan semangat waktu memasuki ruangan yang disambut para mahasiswa dan calon legislatif muda seperti Arif Rangga dari partai golkar yang tidak setuju terhadap Yuddy mengundurkan diri sebagai calon.
Dalam diskusinya seorang politikus sekaligus sebagai dosen universitas Indonesia pada program paska sarjana ilmu politik ini mengatakan bahwa “perubahan akan datang” ia pun diserang berbagai pertanyaan. “ini merupakan kesempatan yang sangat jaranguntuk menyampaikan aspirasi” tutur acep salah satu aktifis kampus sebagai ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Sumedang (FKMS).

0 komentar: